Catatan Kedua #Tumblr

kayyishwr:

<blockquote><h1>Saatnya Mengatur Nafas, untuk Melesat Kembali</h1><p>Hari-hari ini putaran bumi terasa sangat lambat. Pergantian hari terasa sangat lama. Dahulu ahad ke senin terasa begitu singkat, sekarang terasa seperti senin ke ahad, sangat lama. Apakah ini karena keberkahan waktu? atau hanya karena kegiatan kita terlalu sia-sia? Hahaha, silakan nilai sendiri.</p><p>Namun sadarkah kita, mungkin ini waktu yang Allah sediakan untuk kita dalam mengatur nafas. Setelah sekian lama terburu-buru dengan urusan dunia, beradu menjadi nomor satu dalam urusan akademik, berlomba menjadi yang paling kaya, berkompetisi untuk menjadi yang paling tenar, tiba-tiba Allah berikan kita sedikit ‘pengingat’, berhentilah sebentar, atur nafas. </p><p>Mengejar dunia tidak salah, menjadi yang terbaik di dunia tidak terlarang, yang salah adalah kita terlalu berambisi dengan dunia, sehingga lupa, bahwa ada kehidupan setelah dunia, maka berhentilah sebentar, atur nafas.</p><p>Ambil Quranmu, baca lagi surat-surat favoritmu ketika kecil yang sekarang mulai diabaikan, buka lagi buku sejarah nabi-nabi yang dulu menjadi pengantar tidurmu, bereskan barang-barang di kamarmu yang dulu menjadi rutinan tiap akhir pekan, berhentilah sebentar, atur nafas.</p><p>Bagi perantau, ingatlah kembali kampung halaman yang telah lama kita tinggal, mungkin ini saatnya kau pikirkan, apa yang bisa diberikan saat pulang nanti, hubungi lagi nomor-nomor yang dulu sempat rajin kau hubungi sebelum tugas atau rapat begitu menyita waktumu, berhentilah sebentar, atur nafas.
</p><p>Inilah saat-saat terbaik mengenali diri, yang selama ini sering kita abaikan. Kesehatan yang kurang dijaga, asupan yang sembarangan, istirahat yang ala kadarnya, sampai kotoran-kotoran yang menghinggapi diri kita kita; periksa lagi hati kita, pikiran kita, tindak-tanduk kita, istighfari sebanyak yang kau bisa, sujudlah sedalam dan selama yang kau sanggup, tangisi semua dosa, berhentilah sebentar, atur nafas.</p><p>Mungkin ini cara Allah, mempersiapkan diri kita, para pejuang mukmin sejati, membersihkan diri, memperkokoh jiwa dan raga, untuk menyongsong hari perjuangan selanjutnya. Mungkin ini satu-satunya cara Allah, membuat kita berhenti, untuk mengatur nafas lalu melesat seinggi-tingginya, amal kita membekas di bumi, saat raga kita kembali padaNya.</p></blockquote>

MasyaAllah, tabarakallah 🙂

Sangat makjleb! Alhamdulillah.

Baiklah, saatnya untuk mengejar target tahun lalu. Semoga Allah kuatkan azzam dan imun iman supaya dapat berakhir dengan baik.

27 hari menuju Ramadhan. Allohumma sallimnaa fii romadhona. Aamiin 🙏🙏

Ujian ketenangan

Ada kalanya jiwa menerima kerisauan tatkala Allah beri kenikmatan atau sebaliknya.

Ketika seperti ini, kontemplasi adalah hal terbaik yang mampu dilakukan.

Misalnya: perbanyak dzikir kepada Allah, puasa senin kamis dan hal2 penenang lainnya.

Sungguh! Allah-lah yang Maha Mengetahui akan segala hal yang terjadi. Tak perlu untuk mencoba minum obat penenang atau makan cokelat yang banyak. Karena obat dari segalanya adalah kembali ke diri sendiri.

Lantas, tiba2 tangan tergerak untuk membuka mushaf dan Qodarullah surat yang waktunya untuk membaca adalah surat Al-Kahfi. Isinya adalah berkaitan dengan harta dan anak merupakan perhiasan dunia. Amal kebaikan adalah sebaik-baiknya di sisi Allah.

Makjleb!

Sangat me-reminder sekali untuk penenang jiwa. Lantas, apakah sekarang sudah tahap menuju ketenangan?

Rasanya belum, jadi yuuk perbanyak istighfar dan solawat.

Wallahu A’lam.

Kediri, 12 Maret 2020

Finding Mr. Right

purplelliciousworld:

Entah apa yang saya pikirkan saat saya terbersit sebuah ide untuk bikin tulisan ini di suatu pagi yang lagi hectic pake banget. Setelah bolak-balik mikir dan curhat ke salah seorang teman, akhirnya saya putuskan nulis tulisan ini. Judulnya agak dramatis karena saya berharap bisa mewakili perasaan orang-orang (khususnya para muslimah) yang sedang mencari Mr. Right-nya hehehe.

Special thanks untuk sahabat saya, Ajeng yang udah ngasih semangat untuk nulis ini saat saya berpikir bahwa tulisan seperti ini bukan “saya” banget, selain emang karena saya jarang bahas ginian, saya juga lebih suka membahas sesuatu yang lain (mungkin karena saya mikir bahwa hal kayak gini belum waktunya untuk saya bahas, tapi kalo lihat umur sepertinya saya udah harus serius mikirin, hehehe). Sebelum saya lanjutkan, saya mau minta maaf dulu jika dalam tulisan ini ada hal-hal yang tidak berkenan bagi para pembaca (iya kalo ada yang baca), tapi sebenarnya tulisan ini adalah terapi buat saya, daripada saya simpan sendiri, plus sebagai reminder buat diri saya sendiri kalo besok-besok mengalaminya. Dan project ini akan saya bagi dalam beberapa tulisan, so this is not the end, this just the beginning. So, get ready to talk with me within this kind of talking (apaan sih?).

Ah, satu lagi, saya tidak bermaksud menggurui. Ini hanya sharing dan sekedar penyaluran inspirasi serta maklumat yang sudah saya dapatkan. Dan saya menunggu masukkan dari siapa saja yang pengen ngasih masukkan atau pun curhat hehehe.

Sebenarnya sudah lama saya menyadari bahwa atmosfer di sekitar saya berubah sejak saya memasuki usia 22 tahun. Usia young adult emang usia yang cukup bikin stress juga hehe. Pasalnya, di usia itu, saya merasa dihadapkan pada banyak emosi yang kompleks. Apalagi masa remaja saya tidak mulus sehingga bertambahlah beban saat memasuki usia young adult. Di usia ini rata-rata orang sudah menyiapkan rencana-rencananya di masa depan, seperti cita-cita, termasuk urusan cinta. Salah seorang teman yang lebih muda dari saya pernah bilang, kalo nikah umur 23 itu telat banget. Saya cuma bisa ketawa aja.

Tapi emang sih, rata-rata mulai umur 20-an awal, perempuan umumnya sudah memikirkan untuk menikah dan mulai galau tentang siapa pendampingnya. Saya juga sempat memikirkannya trus setelah itu saya jadinya malah fokus ke yang lain hehehe (saya akui bahwa seorang introvert, saya salah satunya adalah orang yang amat sangat pemilih soal pendamping hidup. Bukan saja soal kriteria, tapi ada hal dalam diri saya yang bersuara lebih keras untuk benar-benar selektif terkait pendamping hidup, bahkan saat saya suka sama seseorang saya selalu nanya diri saya berkali-kali, beneran saya suka sama orang itu? Dan itulah yang bikin saya tidak begitu suka membahas urusan beginian).

Nyari pasangan hidup itu gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Soalnya nikah itu bukan buat sehari dua hari, tapi seumur hidup. Di sini yang biasa bikin galau. Pengen nikah, gak ada calon. Ada calon tapi kurang sreg. Atau ada calon tapi ujung-ujungnya gagal. Oya, sebelum lebih jauh ngomongin soal Finding Mr. Right, saya pengen meluruskan dulu bahwa di dalam Islam tidak mengenal pacaran, tunangan dan sebagainya. Di dalam Islam adanya taaruf. Taaruf ini adalah sebuah proses dimana seorang laki-laki dan perempuan saling mengenal dengan tujuan ingin menikah. Jadi, taaruf itu bukan buat nyoba-nyoba. Kalo niat nikah, lebih baik disegerakan, kalo belum jangan main “api” (pembahasan jangan main api akan saya bahas di tulisan lain ^^).

Tapi, taaruf kadang tidak berjalan sesuai harapan karena memang di dalam Islam tidak ada ikatan apapun sebelum menikah dan ini yang terkadang sulit apalagi kalo sudah terlanjur ada hati tapi ternyata gak jadi nikah, akhirnya patah hati deh. So, yang harus dipahami dari proses taaruf adalah bahwa taaruf bukan seperti pacaran atau tunangan. Taaruf hanya wasilah untuk saling kenal (namanya juga taaruf yang artinya kenalan), caranya juga bisa macam-macam, jadi gak perlu berharap banyak apalagi akhirnya jatuh cinta duluan sebelum benar-benar pasti menikah (dan harus saya akui ini emang sulit bagi sebagian besar perempuan dan mungkin saya salah satunya).

Secara pengalaman saya memang belum punya banyak pengalaman pribadi tentang beginian, tapi saya pengen berbagi ilmu yang sudah saya dapatkan berdasarkan apa yang saya simak dan apa yang saya baca dari orang-orang yang in syaa Allah trusted. Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita pahami dalam proses pencarian menemukan Mr. Right versi kita masing-masing. Cekidot!

Konsep Jodoh

Pemahaman tentang konsep jodoh sangatlah penting saat kita berniat untuk menikah atau berproses menuju pernikahan. Di dalam buku Risalah Khitbah disebutkan bahwa konsep jodoh sama dengan konsep rizki. Jodoh adalah ketetapan Allah (qadha), namun Allah juga menuntut kita untuk berikhtiar dalam menemukannya, sama seperti rizki. So, jangan harap jodoh datang dengan sendirinya kalo kita gak berusaha untuk menemukannya, minimal niat trus cari tahu deh langkah syar’ie dalam menemukannya. Satu-satunya langkah syar’ie adalah dengan taaruf (ini yang saya pahami karena Islam tidak mengenal istilah pacaran, TTM, HTS, dsb).

Namun, sebelum memahami tentang konsep jodoh, pahami dulu tentang konsep qadha-qadar bahwa di dunia ada hal-hal yang bisa kita kuasai dan ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kuasai. Dan perlu diingat bahwa langkah awal menuju pernikahan adalah keridhoan. Kalo sudah sama-sama ridho in syaa Allah akan menikah tapi kalo salah satu tidak ridho maka pernikahan tidak mungkin berjalan dan kalo pun berjalan akan sulit menjalaninya makanya keridhoan itu penting. Ridho gak berarti harus suka duluan lho ya, minimal ada kecenderungan satu sama lain. Saya agak sangsi untuk menyamakan ridho dengan suka karena orang bisa aja ilfeel setelah tau sisi buruk orang yang dia suka. So, ridho gak selalu berarti suka. Jadi kalo misal ada yang taaruf-nya gagal, gak selalu karena salah satu pihak gak suka, bisa jadi gak ridho karena alasan tertentu. Nah, keridhoan itu adalah perkara qadha’i. Kita gak bisa maksa seseorang untuk suka sama kita sebagaimana kita suka sama dia. Atau kalo pun sama-sama suka, kita gak bisa menjamin perasaan orang makanya kalo mau nikah pastikan udah siap lahir-batin sehingga bisa ridho terhadap qadha Allah jika prosesnya tidak berjalan lancar. Dan harus selalu diingat bahwa taaruf itu tidak menjamin jadi tidaknya dua orang untuk menikah, tetapi taaruf adalah jalan yang Allah ridhoi untuk menemukan jodoh yang tepat bagi kita (ehem, tiba-tiba berasa jadi bijak :D)

Jangan Cepat Underestimate

Ini sebenarnya buat saya. Maksud saya underestimate di sini adalah belum juga berproses udah nolak duluan. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika datang kepada kalian seseorang (pria) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika hal itu (kebaikan agama dan akhlak) ada padanya?” Rasulullah SAW menjawab: “Jika datang kepada kalian seseorang (pria) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia.” Rasulullah SAW mengatakannya hingga tiga kali.” (HR. Tirmidzî)

Seringkali kriteria individu bikin kita mengabaikan kriteria syar’ie. Punya kriteria individu sebenarnya boleh-boleh saja biar gak asal nerima atau nolak. Tapi, bukan berarti selektif sampe segitunya. Semua orang bisa berubah, so berprasangka baiklah sama Allah. Kalo niat kita menikah karena Allah dan semata karena ingin beribadah kepada Allah, in syaa Allah, Dia akan pertemukan kita dengan orang yang memiliki niat yang sama. Mungkin ada yang sering bilang kalo perempuan baik-baik untuk laki-laki yang baik (dan ternyata tafsirnya bukan untuk perempuan kebanyakan atau laki-laki kebanyakan, ayat itu tentang fitnah terhadap Aisyah ra., istri Rasulullah SAW setelah Rasulullah SAW wafat), meski pun gak selalu begitu tetapi rata-rata begitu. Kaidah kausalitasnya begitu sih hehe. Soalnya kalo orang baik-baik pasti nyarinya yang baik-baik juga. Orang gak baik aja nyarinya yang baik-baik, apalagi orang baik, iya gak?

Siapkan Diri Sebaik Mungkin

Ini yang seringkali terlupa saat kita (khususnya perempuan yang suka berimajinasi) udah sibuk duluan galau soal “siapa” pendamping hidupnya. Padahal, kehidupan setelah pernikahan adalah kehidupan sebenarnya bagi seorang perempuan. Setelah menikah seorang perempuan akan sempurna sebagai perempuan karena kewajiban utamanya sebagai ummun wa rabbatul bayt hanya akan terlaksana setelah dia menikah. Gak salah sih mendamba, tapi ya tetap harus realistis juga karena hidup gak seindah drama Korea (hehe nyontek iklan di tivi). Pasangan kita nantinya belum tentu seorang Prince Charming yang sempurna dari sisi mana pun. Bagaimana pun kita akan menikah dengan seorang manusia biasa yang bisa salah dan lupa. Maka, bagi perempuan, persiapan sebelum menikah harus lebih ekstra karena setelah menikah mereka akan memulai sebuah project besar dari Allah, yakni menjadi ibu bagi generasi di masa yang akan datang dan menjadi istri dari para pria hebat di mata dunia. Maka sejak dini siapkan bekal yang optimal selain siapkan diri lahir batin, khususnya tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, seperti bagaimana menyelenggarakan pernikahan yang syar’ie, komunikasi dengan keluarga, khususnya orang tua dan keluarga besar, serta hal-hal yang akan menjadi kewajiban setelah menikah, seperti bagaimana kewajiban istri, bagaimana mendidik anak bahkan sampai hal terkecil seperti mengatur pengeluaran rumah tangga. Jangan pikir dengan menikah semua masalah hilang, justru masalah tambah banyak, bedanya masalahnya nanti dihadapi berdua, didiskusikan berdua, dikomunikasikan berdua yang in syaa Allah akan lebih ringan. Tapi bukan berarti para jomblo gak bisa menghadapi masalahnya sendirian. Yakinlah bahwa kalo kita masih jomblo berarti Allah masih percaya kita mampu menyelesaikan masalah kita seorang diri. Jadi inget jargon Liverpool, You Never Walk Alone. Yes, cause Allah is always with us. For awesome Jomblos out there, cheer up! 😀

Yakinlah Pada Skenario Allah

Salah satu bukti bahwa Pencipta benar-benar ada, yakni kehidupan yang berjalan dengan skenario tertentu. Bukti lain bahwa manusia diciptakan oleh Pencipta adalah manusia memiliki keinginan dan ambisi yang ingin diraihnya di dunia ini.

Manusia itu kompleks. Mereka memiliki potensi kehidupan yang harus dipenuhi seumur hidup mereka. Sayangnya, potensi kehidupan yang berupa naluri dan kebutuhan jasmani itu tidak selalu bisa dikendalikan dengan mudah. Potensi itu kadang bisa seperti famorgana. Mereka menipu dan membius. Semakin dikejar dan kemudian setelah didapatkan akan membuat ketagihan untuk terus memenuhi tuntutan-tuntuan mereka. Namun, manusia harus bersyukur karena Pencipta mereka, Allah SWT mengetahui hal itu. Allah mengetahui ciptaan-Nya dengan amat sangat baik. Oleh karena itu, Allah sertakan akal sebagai timbangan manusia agar manusia tidak selalu terjebak untuk mengejar potensi kehidupan mereka yang dua tadi, kebutuhan jasmani dan naluri-naluri. Kalau bahasa saya, mengejar rasa. Ya, rasa. Kenapa? Potensi-potensi tadi itu rasa. Rasa yang diinginkan setiap manusia. Rasa yang dikejar untuk dimiliki. Itu juga yang bikin manusia punya sifat tamak, pendendam, obsesif, dan sebagainya.

Kadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, termasuk saat menyukai seseorang atau sedang menjalani proses dengan seseorang. Maka, penting sekali untuk punya ilmu tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menghadapi kehidupan. Soal cinta kayaknya sederhana, tapi bagi sebagian orang tidak begitu. Masing-masing orang punya titik kelemahan. Ada yang diuji dengan keegoisan, ada pula dengan perkara seperti ini. Saya tidak bisa menyalahkan juga dan tidak bisa langsung men-judge bahwa orang-orang yang patah hati adalah orang-orang yang lemah karena pada kenyataannya semua orang punya titik kelemahan yang berbeda-beda dan di sanalah Allah menguji mereka. Saya beberapa kali diuji dengan seperti itu. Gak gagal taaruf sih, semacam bertepuk sebelah tangan gitulah.

Tapi akhirnya saya belajar banyak dari sana, termasuk soal skenario Allah. Bagaimana pun juga jodoh adalah ketetapan Allah jadi pasti Allah akan pilihkan yang terbaik selagi kita yakin pada-Nya. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tetapi justru awal yang baru bagi sesuatu yang baik di masa depan. So, bersabarlah. Mengutip dari Ustadzah Zulia Ilmawati, sabar mungkin tidak akan langsung menyelesaikan masalah kita, tetapi dengan bersabar kita akan lebih kuat dan mampu menghadapi sebuah masalah.

Satu lagi, bukan karena kita sholeh atau sholehah semata trus kita dapat jodoh yang sholeh atau sholehah juga, tapi karena niat ikhlas kita yang membuat kita berupaya untuk menjadi hamba yang dicintai Allah-lah yang membuat Allah mempertemukan kita dengan orang yang juga berupaya untuk menjadi sosok yang demikian.

Tetap luruskan niat ya, jangan sampai hatinya disusupi syaithan yang mencoba menjadikan kita orang-orang yang dibenci Allah. Naudzubillah min dzaliik.

Doa Tetaplah Senjata yang Takkan Meleset

Salah seorang guru saya pernah mengatakan bahwa saat sedang berproses atau berniat untuk menikah maka kita seharusnya jadi lebih dekat kepada Allah. Itu benar karena syaithan sangat tahu kelemahan manusia dan akan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan. Jika kita berniat untuk menyempurnakan kewajiban kita sebagai ummun wa rabbatul bayt, maka jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah. Mintalah kekuatan dan petunjuk dari-Nya. Mintalah diberikan keputusan yang terbaik karena doa akan selalu menjadi senjata yang takkan pernah meleset bagi seorang Muslim.

Last but not least, teruslah berproses untuk melayakkan diri dengan amanah apa pun. Dari pengalaman saya, akan lebih baik jika sebelum menikah memiliki ilmu terlebih dahulu, bukan hanya soal pernikahan tetapi lebih dari itu, ilmu tentang kehidupan. Dan Islam sudah punya semuanya. Lengkap dan paripurna. Daripada sibuk menggalau dan menjadi salah satu dari squad para Gegana (Generasi Gelisah, Galau, Merana), lebih baik habiskan waktu untuk mengkaji Islam secara menyeluruh sebagai bentuk sabar dan ikhtiar. Are you ready to find your Mr. Right? Bismillah~~

Your sister in Deen,

Purplellicious

Ps. Edisi repost, hehe. Nemu tulisan lama yang sepertinya masih related sampe sekarang berhubung sering banget ditanyain soal jodoh tapi diri sendiri masih belum benar-benar selesai. Special thanks untuk yang sering diajak ngobrol soal ginian, mulai dari poin absurd sampe poin waras wkwkwk

Okay, selesaikan dengan diri sendiri dahulu. Dan untuk diriku ayo jadi yang lebih kuat dengan memberi benteng sebelum siap jangan buka pintu dulu.

Terima kasih self reminder nya :))

gagangpensil:

Tidak Selamanya Hidup Memberi Kita Pilihan

Saya anak kedua dari 2 bersaudara. Kakak perempuan saya sudah tinggal bersama suaminya di luar kota. Orang tua saya bercerai. Saya tinggal di pedesaan. Otomatis mencari pendapatan sangat sulit.

Menjadi anak lelaki tidak mudah. Mau pergi merantau, tak tega dengan ibu di rumah. Tapi tinggal di rumah pendapatan tidak memuaskan.

Mau menikah, harus berpikir panjang. Hari ini tak banyak perempuan yang mau hidup satu rumah dengan mertua. Begitu juga saya. Saya ingin mengurus keluarga saya sendiri, belajar dari nol. Tidak merepotkan orang lain.

Ada banyak cita-cita yang sudah kusiapkan.

Selepas wisuda mengambil beasiswa luar negeri. Merasakan jalanan kota-kota besar. Menjalani banyak petualangan dan pengalaman. Selepas S2 pulang untuk membangun bisnis di ibukota. Mewujudkan ide-ide yang selama ini kusimpan. Menjadi lelaki mandiri. Bertemu dengan banyak orang. Mengembangkan potensi yang kupunya.

Tapi, melangkahkan kaki dari pintu rumah saja sangat berat. Pergi menginap semalam di luar rasanya tidak tenang. Saya punya tanggung jawab yang tak bisa kutinggalkan di rumah.

Saya selalu merasa diri saya berbeda. Ada sesuatu yang spesial.

Saya tidak punya keinginan menjadi orang-orang pada umumnya. Melamar pekerjaan di perusahaan. Menjadi orang normal. Punya jadwal yang teratur.

Saya merasa bisa melakukan lebih dari itu. Saya tidak ingin menyerahkan sisa usiaku dengan mengikuti rutinitas menjemukan semacam itu.

Padahal saya yakin, saya bukan tipe orang idelogis. Memegang nilai yang tidak realistis. Memimpikan sesuatu di luar keumuman, memburu keinginan pribadi dan lain sebagainya.

Mungkin terdengar ideologis. Tapi, bagi saya itu realistis. Realitanya memang pekerjaan umum tersebut menjemukan untuk saya. Saya harus realistis bukan.

Saya tahu, saya tidak akan berkembang jika hanya tinggal di lingkungan saya sekarang. Saya tidak nyaman melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin tersebut bukan karena hanya melihatnya saja. Saya pernah menjalaninya.

Saya pernah bekerja di perusahaan, di rumah produksi, di toko dan lain sebagainya. Saya mencoba realistis. Memang nampaknya bukan di situ dunia saya. Saya tidak bisa memaksakan diri. Menipu diri sendiri.

Toh, dari awal saya membiayai biaya kuliah sendiri bukan untuk menjadi orang biasa. Saya ingin menjadi orang yang berbeda dan lebih. Saya ingin melihat dunia ini lebih luas lagi.

Orang bilang, hidup adalah pilihan.

Tapi nyatanya tidak selalu hidup memberi kita pilihan. Kadang kita di posisi tanpa pilihan. Menjalani sesuatu yang mau tidak mau harus kita jalani, sebab tak ada pilihan lain.

Hidup tak memberi kita pilihan. Hidup memberi kita batasan-batasan. Hidup memberi kita garis yang jika dilewati akan memperburuk keadaan. Menempatkan kita pada posisi yang lebih sulit, tidak menentu bahkan membuat kita nampak buruk.

Pada akhirnya, mungkin saya harus lebih realistis lagi. Menjadi orang normal. Mendaftar pekerjaan di dekat rumah, menjadi perangkat desa mungkin sembari mencoba peruntungan CPNS. Sebab, realitanya saya tidak bisa lepas dari rumah. Pada akhirnya saya harus menjadi orang biasa.

Apa yang saya alami ini mungkin banyak dialami oleh orang lain di luar sana. Banyak potensi dan keinginan yang terhambat oleh tidak adanya pilihan. Mencoba menjadi manusia yang baik membutuhkan pengorbanan.

Saya bisa saja meninggalkan rumah, pergi merantau, mencoba peruntungan sebagaimana yang orang-orang desa dulu lakukan.

Lelaki harus mencari penghidupan sendiri. Merasakan pengalaman hidup sebanyak mungkin. Saya bisa saja mengikuti ego, sebab itu hak saya sebagai lelaki. Saya tidak bersalah atas apa yang kedua orang tua saya lakukan. Bercerai dan saling meninggalkan. Kenapa saya yang harus menanggungnya.

Ya. Saya bisa saja menjadi orang semacam itu. Melepaskan diri. Membebaskan diri. Saya bisa saja melakukan itu.

Tapi, jika saya melakukan itu. Saya akan menjadi seperti ayah saya. Saya selalu berusaha memaksa diri untuk tidak menjadi seperti dia. Meninggalkan keluarga dan tanggung jawab.

Nampaknya, menjadi baik tidak selalu memberi kita kebahagiaan. Walaupun saya tidak berbahagia saat ini, paling tidak saya menjadi orang baik.

Semoga itu cukup

#nulisajadulu

Sedang merasakan seperti ini. Awal februari kemarin menjadi sebuah kesepakatan yang menurut saya rumit.

Kenapa rumit? Karena akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan pada semester depan.

Nampaknya ada pergulatan antara batin dan pikiran saya ketika itu.

Yang sekarang masih saya pikir agak susah untuk meninggalkan adalah anak2 yang selama ini menemani saya belajar. Ada rasa takut kehilangan dan akan merindui mereka saat pergi.

Namun, pada akhirnya saya memilih saja untuk barangkali melepas sejenak pekerjaan.

Ya, semoga ini adalah keputusan terbaik yang diridhoi Allah beserta semestaNya. Aamiin 🙏🙏

Kediri, 20 Feb 2020

Jz 21

Sepertinya, melangitkan do’a adalah cara yang paling tepat untuk meminta supaya kamu selalu Allah jaga dalam segala keadaan.

Selalu Allah liputi dalam keberkahan hidup.

Luapan kata-kata hanyalah sendau gurau untuk mengusir rindu. Namun dengan rapalan do’a, segala rindu akan terasa begitu syahdu. Tanpa ba bi bu insyaAllah akan Allah sampaikan melalui perantara maha Rahman dan RahimNya.

Semoga Allah selalu menjagamu 🙂

Karena tiada balasan yang baik kecuali kebaikan itu lagi.

(Januari’15)